kilauan zamrud membelah mega..............


Jumat, 05 Februari 2016

Selamat jalan prof...

 
Tadi malam iseng poety googling dokter yang membantu kelahiranku.. Prof. Dr.dr. Achmad Biben, SpOG... karena Poety juga bercita-cita ingin kuliah di kampus beliau.. alangkah kagetnya... ternyata beliau sudah almarhum sejak 7 bulan yang lalu... innalillahi wa innailaihi rajiun.... selamat jalan prof...

Teringat cerita papa & mama yang 13 tahun yang lalu rutin memeriksakan kandungan mama ke Klinik Maskumambang, Bandung. Yaitu klinik dan tempat prakteknya Prof. Biben.. dan teringat juga cerita papa, tentang betapa baiknya beliau kepada pasien dan betapa disiplinnya beliau kepada para perawat di RS.. Cerita mama, waktu Poety lahir di RS St. Boromeous Bandung, waktu kunjungan dokter Biben adalah waktu yang menegangkan bagi para perawat di RS...ketidak rapian ruang pasien dan ruang bayi merupakan kesalahan yang menyebabkan semua perawat yang bertugas ditegur oleh beliau... apa lagi kalau terjadi kesalahan penangan pasien... tapi sebaliknya bagi pasien kedatangan beliau adalah waktu yang paling menyenangkan karena akan dapat berkonsultasi dengan jawaban2 yang mudah dimengerti dan jelas..

Oh iya.. kata papa, dr. Biben dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) Fakultas Kedokteran Unpad, ketika Poety dalam kandungan...

selamat jalan prof...

berikut Poety copy paste berita UNPAD tentang berpulangnya beliau...

"Prof. Dr. H. Achmad Biben, dr., SpOG., KFER 
Meninggal Dunia"

Di pengujung Ramadhan, Unpad kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Guru Besar Emeritus Ahli Penyakit Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Unpad, Prof. Dr. Ahmad Biben, Sp.OG-KFER, meninggal dunia pada usia 74 tahun, Selasa (14/07) pukul 10.50.
Almarhum mendapat upacara penghormatan terakhir dari civitas akademika Unpad, Selasa (14/07) siang di Masjid Al Jihad Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung. Upacara tersebut dihadiri Rektor Unpad, Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr., Dekan Fakultas Kedokteran Unpad, Arief Sjamsulaksan K., dr., SpM(K), M.Kes., M.M., PhD., segenap sivitas akademika Unpad, serta kerabat almarhum.

Rektor Unpad dalam sambutannya mengatakan, kontribusi almarhum terhadap kemajuan ilmu kedokteran Unpad sangat banyak. Selain di bidang akademik, almarhum juga aktif di organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Indonesia.

“Hal-hal ini patut kita teladani sehingga ke depan kita dapat mengembangkan universitas ini jauh lebih baik lagi,” kata Rektor.

Prof. Ahmad Biben lahir di Bandung, 1 Desember 1940. Pada tahun 1999, almarhum menyelesaikan studi Doktor Bidang Ahli Penyakit Kebidanan dan Kandungan di Program Pascasarjana Unpad. Almarhum meninggalkan seorang istri, dr. Lien Rohalina, dan tiga orang anak.*

Rabu, 17 Juni 2015

menjalankan Puasa dengan Kaffah..

Marhaban ya Ramadhan....

puasa... makan dan minum
puasa... hawa nafsu
selama Ramadhan kita berpuasa...
kita tahan haus dan lapar...

tapi kenapa yaaaaa  kok  selama Ramadhan pasar menjadi lebih ramai.... 

mama-mama membeli bahan makanan lebih banyak dari biasa... 
hmmmmm padahal kan selama Ramadhan kita makan - minum cuma saat sahur dan saat berbuka....

hmmmmm mestinya belanja sembako jadi lebih sedikit dong dibanding hari biasa...



Selasa, 01 April 2014

Hari pertama di sekolah... (cerita)



            Dita melangkah ragu ke dalam kelas itu. Ibunya masih berbincang-bincang bersama ibu-ibu lainnya. Di dalam kelas tampak beberapa anak bermain. Ia gelisah. Dita ingin langsung masuk. Namun, ibunya kelihatan masih asyik mengobrol. Ia pun menarik tangan ibunya.
            “Ayo Bu...., Dita ingin masuk kelas baru Dita, “ paksa Dita hingga ibunya mengiyakan. Dita langsung masuk kelas. Kelas barunya tampak begitu ramai. Ia pun mencari mejanya. Setelah menemukan meja di posisi yang menurutnya tepat, Dita memasukkan buku-bukunya ke dalam laci mejanya. Barang-barang yang lainnya juga dimasukkan ke dalam laci mejanya dan dirapikan seperti bukunya.
            Bel sekolahnya berbunyi. Ibunya pun pulang. Dita melihat wanita kira-kira berumur dua puluh tahunan. Wanita itu membawa beberapa buku pelajaran yang sama seperti dipunyainya dan beberapa file serta sebuah tempat pensil berwarna cokelat.
            “Pagi anak-anak!” sapa wanita itu riang sambil menaruh bukunya di meja guru. Wanita itu berjalan ke depan kelas yang indah itu.
            “Saya adalah wali kelas kalian di sini. Nama saya Bu Tina. Kalian akan belajar bersama saya di kelas baru ini. Sekarang, karena hari pertama, kita mulai berkenalan. Siapa yang mau maju ke depan?” tanya Bu Tina tersenyum. Ada beberapa anak yang mengacungkan tangan, termasuk Dita.
            “Ya, kamu!” tunjuk Bu Tina kepada anak laki-laki gendut yang berkacamata. Anak itu maju ke depan dengan penuh percaya diri. Beberapa anak tertawa cekikikan melihat gayanya yang menjadi agak culun.
            “Hai teman-teman semua! Nama saya adalah Gagas Pramulya Wintoroto. Dipanggil Gagas. Hobi saya adalah menulis. Saya berasal dari Jakarta. Dulu saya bersekolah di International Cruise Kindergarten School. Rumah saya berada di perumahan Melati Putih Jalan Bougenville Raya Blok J7 nomor 6. Umur saya 5 tahun, “ Gagas memperkenalkan diri. Setelah itu, Gagas duduk kembali.
            “Terima kasih Gagas. Sekarang kamu!” tunjuk Bu Tina pada Dita. Dita pun maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri.
            “Hai semua! Nama saya Ninda Dita Putri. Biasa dipanggil Dita. Hobi saya bermain sepakbola dan hiking. Rumah saya di kompleks Kembang Biru Jalan Merpati Raya Blok H4 nomor 1. Saya berasal dari Jakarta dan dulu bersekolah di International Moon Kindergarten School. Senang bertemu kalian!” Dita memperkenalkan diri dengan tampilan yang berwibawa.
            “Terima kasih Dita,” ucap Bu Tina lembut. Dita pun kembali ke tempat duduknya. Teman sebangkunya mengacungkan jari.
            “Ya! Perkenalkan dirimu, nak!” pinta Bu Tina. Anak itu maju ke depan kelas dengan anggun.
            “Selamat pagi semuanya! Namaku adalah Himayana Pramono Kusuma. Panggilnya Maya. Membaca adalah hobi saya yang paling saya gemari. Selain itu, saya juga suka menari. Rumah saya di Kompleks Kembang Biru Jalan Merpati Raya Blok H4 nomor 3. Saya berasal dari Jakarta. Dulu saya bersekolah di International Pretty Kindergarten School,” Maya memperkenalkan diri dengan mimik wajah yang biasa sekali. Lalu, banyak anak yang memperkenalkanan diri. Ada Salsa, Mira, Budi, Oscar, Citra, dan Peter. Setelah perkenalan, Bu Tina menyuruh anak-anak menggambar binatang di kertas dan mewarnainya memakai pensil warna. Dita pun menggambar bersama yang lainnya. Dita dan Citra yang jago menggambar, menggambar beberapa hewan langka di Indonesia. Maya menggambar dua kelinci putih yang memakan wortel. Salsa, Mira, dan Oscar yang lucu, menggambar orang utan sebisa mereka sehingga gambar mereka terlihat sangat lucu. Budi, Peter, dan Tio yang santai, menggambar lumba-lumba yang loncat melewati lingkaran atraksi. Anak-anak lain juga menggambar sebisa dan sebagus mereka buat.
            Setelah menggambar, gambar anak-anak di kumpulkan untuk ditempel sebgai kreasi dalam kelas.  Bel pun berbunyi. Anak-anak langsuk berlarian bermain ke luar. Dita, Maya, Tio, dan beberapa teman lainnya memakan bekal yang dibawakan oleh ibu mereka masing-masing.
            “Halo! Boleh ikutan makan, tidak?” tanya Maya dan Tio pada Dita. Dita tersenyum dan mengangguk pada kedua teman barunya.
            “Kamu makan apa?” tanya Dita pada Maya dan Tio yang sedang mengambil kotak makanan mereka.
            “Aku makan udang goreng tepung yang krispi dan dilumuri mayones serta saus. Aku juga makan pakai nasi putih dan sayur sop yang masih hangat. Minumannya limun segar favoritku! Kalau kamu?” jawab Maya sekaligus bertanya pada Tio.
            “Aku makan nasi putih. Lauk pauknya adalah sosis berbentuk bunga dan sayurnya sop juga. Minumanku jeruk hangat buatan ibuku. Kalau kamu Dita, makan apa?” tanya Tio setelah menjawab pertanyaan Maya dan Dita.
            “Aku nasi goreng pakai telur ceplok dan minumannya air putih biasa,” jawab Dita sambil menunjukkan bekalnya yang masih hangat. Mereka pun makan. Setelah makan, mereka bermain petak umpet bersama Oscar dan Mira yang juga habis makan.
            “Tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, dua puluh!” hitung Maya. Maya lalu mencari teman-temannya. Maya menemukan Tio dan Oscar yang bersembunyi di kolong meja guru. Sekarang, ia mencari Dita dan Mira. Ia menemukan Mira di balik lemari. Sekarang Dita. Di mana Dita, yaaa?
            “Hong Dita !!!” seru Dita keras menyebut namanya dan memukulkan tangannya di dinding tempat Maya tadi menutup mata dan menghitung.
            Kring! Kring!Kring!!!!!!!!!!!!!!!
            Bel istirahat usai, berdering. Anak-anak langsung kembali ke kelasnya masing-masing. Bu Tina masuk kembali sambil membawa banyak kertas kecil.
            “Anak-anak, sekarang kita akan memilih ketua kelas kita. Apakah ada yang mau mencalonkan diri?”tanya Bu Tina tegas. Akhirnya, karena tidak ada yang mau mencalonkan diri, Bu Tina memilih calonnya. Ada Salsa, Lisa, Rumi, dan Peter. Salsa maju dengan gugup ke depan bersama tiga calon ketua kelas lainnya. Para calon menjelaskan apa yang mereka lakukan jika mereka terpilih.
            “Calon yang mau kalian pilih, harus kalian tulis di kertas ini. Kita memilih melalui voting atau pemungutan suara,” perintah Bu Tina sambil membagi-bagikan kertas kecil. Anak-anak pun langsung menulis pilihan mereka.
            Setelah menulis, anak-anak menggulung kertas itu dan memasukkan ke dalam boks kecil berwarna putih. Bu Tina menunjuk Dita untuk menghitung suara dan Maya untuk menulis suara. Dita pun membaca. Hingga akhirnya Salsa yang terpilih menjadi ketua. Peter menjadi wakil. Lisa menjadi sekretaris dan Rumi menjadi bendahara. Salsa merasa senang sekali.
            “Sekarang kita akan melakukan kegiatan terakhir kita di hari pertama yang menyenangkan ini! Kita akan mengelilingi sekolah kita yang luas ini dan kita tidak akan diganggu kelas lain!!!” seru BuTina riang. Anak-anak spontan berseru senang sekali hingga akhirnya Bu Tina menenangkan.
            Mereka pun mulai dari gedung sekolah mereka yang besar dan tinggi.
            “Ini adalah kelas level 1, 2, dan 3. Satu level berisi tiga kelas, A, B, dan C. Lalu, di lantai dasar ini juga ada kamar mandi, ruang guru (kelas 1, 2, 3), ruang kepsek (ruang kepala sekolah), dan ruang TU atau disebut tata usaha. Kita lihat guru-guru yang ada di dalam, yaaa,“ Bu Tina pun menuntun anak-anak masuk ke dalam ruang guru.
            “Ini adalah Bu Gita, wali kelas 1B. Ini Bu Sabrina, wali kelas 1C. Ini Pak Tiko, wali kelas 2A. Pak Boro, wali kelas 2B. Bu Darmono, wali kelas 2C. Ini Bu Emi, wali kelas 3A. Pak Lomi, wali kelas 3B. Bu Setiani, wali kelas 3C. Bu Gita akan menjadi guru matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia. Bu Sabrina akan menjadi guru olahraga, kesenian, dan Bahasa Inggris.                

                                                           bersambung
                     

Rabu, 26 Maret 2014

Ibu Kota dan Wibawanya (komentar Pakde Borsma dan Pakde Bowo)

ternyata tulisan om Asikin ini dibahas oleh teman-teman papa sesama alumni VM ITB...  berikut adalah komentar Pakde Boersma dan Pakde Bowo.... semua Poety dapat di komputer papa... 
-----------------------------------------------------------------------------
dari Pakde Boersma Ibrahim   

Asikin,
 
aku selalu menghayal mengenai Indonesia ditata dengan baik.. ohh alangkah Indahnya. begitu banyak pantai di Indonesia bisa diciptakan menjadi tempat berrekreasi. Cuaca sangat menunjang. tidak seperti di negara 4 musim. kalau sudah kedinginan mengidam idamkan datangnya matahari, begitu datang hangatnya matahari semua orang bersuka ria, begitu musim dingin muka pada manyun dengan posisi tangan bersidekap.. musim panas 3 bulan terdiri dari, hujan 50%, terang 25%, berawan 25%. nah cuma berapa hari ada matahari ?? jadi seharusnya di Indonesia menikmati keindahan cuaca ya..
Tapi.........hampir semua panca Indra mengatakan tidak...
Penciuman....... bau sampah dan pesing kalau di Bekasi..
Penglihatan..... amburadul di Jakarta..... langit kotor... jalan tumpah ruah segala macam kendaraan.. tidak ada taman kota yang ditata bagus, kalaupun ada banyak tukang baso,es, dll mangkal..
Pendengaran... bising..kali banyaknya manusia. kecuali di Hotel besar ya...
Perasa (Mulut).. kali ini yang masih berlaku, tapi..... daging sekilo jauh lebih mahal dari US. harga mangga sama mahalnya di US, jengkol dan pete sempat menghilang. mudah mudahan diluar Jakarta masih jauh lebih murah ya.
Indera satu aku lupa.... he.. he..
 
Aku setuju dengan pendapatmu... hidup juga mengingkan keindahan bukan hanya perut kenyang. mata perlu sekali dimanjakan dengan keindahan, sehingga pikiran kita selalu segar... nah kalau kota, rumah, jalan, kendaraan tidak mempunyai seni gimana... hambar melihatnya.  Kotanya amburadul, jalannya sumpek campur aduk mobil, motor , rumah tidak mempunyai seni bangunan. wah... butek juga otak....
 
Jadi seni iitu penting....insinyur mobil tidak didampingi oleh designer.. mobilnya mirip kaleng kerupuk jalan... rumah enggak ada seni bisa mirip... gudang beras...
Jadi seni itu penting sekali, ini yang hilang dari masyarakat kita karena  mengutamakan yang lainnya dulu sehingga ibu kota kita terlihat amburadul...
maaf friends aku mengatakan seperti ini bukan karena aku tidak di Jakarta.. Jakarta sudah kehilangan seni setelah ditinggal oleh Bung Karno..pendapatmu Asikin betuullll sekali..
bandung tempo dulu Indah sekali. rumah rumah tertata dengan baik dan bunga bunga tumbuh di pekarangan.. udara sejuk.. kali sudah berubah juga ya...
 
Indonesia tidak punya seni...... ooo tidak...lihat bali.. lihat borobudur, Prambanan...
Cuma banyak orang yang tidak mau memikirkan seni lagi....
Semua teman yang wisata ke Eropa, US, Canada.. pasti takjub melihat bagamana seni membangun kota... ada taman Kota, ada Museum, Bangunan bangunan yang indah dan berseni....
Jadi Asikin selalu taburkan keahlian senimu  kemasyarakat kita termasuk aku dan Villmers lainnya  lho...aku sendiri hanya penikmat seni bukan seniman.
lain kali disambung ceritanya ya... aku lagi santai tadi... jadi sempat buat support tulisanmu...
 
salam hangat.
 
---------------------------------------------------------------------------------------
Komentar Pakde Bowo
 
Akupun juga suka menghayal,
Kapan penduduk jakarta ini punya kebiasaan antri, mendahulukan orang lain.
Kapan penduduk jakarta ini punya kebiasaan, berbicara dengan baik, menyapa satu sama lain.

Sehingga hidup ini terasa, nyaman, aman dan tenteram, terhindar dari prasangka buruk, kekuatiran dan kecemasan.

Terhindar dari perbuatan perbuatan yang tidak baik, terutama seperti mengambil yang bukan haknya..

kebetualan aku kebangun.
Baca tulisan Boersma,
Tulisan seperti itu justru aku rindukan, agar kita tahu kita ada dimana.
Tidak seperti sekarang ini seolah kita sendiri merasa bingung, ibarat " arep mlebu metu endi ".
 
salam
 

Ibu Kota dan Wibawanya

Hari ini Poety ngenet pakai komputer papa... dan poety dapat tulisan ini di komputer papa..
tulisan dari om Asikin Hasan, teman papa di Villa Merah ITB... yuuuk kita baca.....
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ibu Kota dan Wibawanya

Asikin Hasan  (kurator galeri lontar) 
 
Di Washington, D.C., layar iklan produk industri dilarang mengisi ruang-ruang publik. Bahkan baliho berisi foto presiden dan anggota legislatif, apalagi pendakwah agama, tak punya tempat barang secuil pun. Ruang publik adalah milik publik yang harus bersih dari kepentingan kaum saudagar, propaganda para politikus, organisasi massa, dan kelompok tertentu. Foto-foto presiden Amerika hanya bisa kita temukan dalam bentuk kartu pos, dan produk ekonomi kreatif lainnya di dalam toko-toko seni rupa, ditempatkan setara dengan foto-foto Marylin Monroe atau Elvis Presley, simbol budaya pop Amerika era 60-an.


Ibu kota itu tergambar sebagai lahan terbuka, hutan kota yang lebat, taman-taman dengan banyak kursi tempat warga mengaso sejenak, atau menikmati keindahan dan kenyamanan lingkungan sekitarnya. Pemandangan dominan pada ibu kota itu adalah puluhan museum, monumen, patung para pendiri Amerika, dan tokoh pejuang kemanusiaan. Semua menunjukkan sikap dan cara warga Amerika mendudukkan wibawa dan kehormatan ibu kota mereka.


Pada 16 Mei 1956, ketika pertama kali Presiden RI Sukarno melihat Monumen Washington dan kawasan terintegrasi di sekitarnya, ia tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Ia menaruh perhatian begitu penting pada monumen, tempat di mana orang akan selalu mengenang hal berharga dalam kehidupan berbangsa. Monumen serupa itu, menurut Bung Karno, hanya bisa dibangun oleh mereka yang bermental patriot komplet. Istilah itu menunjuk pada semangat totalitas bahwa setelah merdeka, pembangunan bangsa tak cukup hanya dari segi pangan dan papan semata, tapi juga dalam seni-budaya. Pembangunan ruang publik dan elemen di atasnya adalah seni budaya itu sendiri.


Dalam perjalanan 50 hari di Eropa dan Amerika itu, Sukarno terinspirasi mendirikan Monumen Nasional (Monas) dan taman kota. Menurut dia, selain kebanggaan, rakyat berhak mendapatkan pemandangan yang menyehatkan bagi matanya, sebagaimana mereka juga berhak berjalan kaki dengan nyaman dan aman di atas trotoar. Di tengah krisis ekonomi dengan inflasi hingga 650 persen ketika itu, Bung Karno seolah melawan teori Abraham Maslow soal jenjang kebutuhan dasar manusia. Bagi Bung Karno, kebutuhan manusia akan seni dan budaya setara dengan kebutuhan dasar lainnya. Keyakinan itulah yang dipegangnya untuk membangun ruang-ruang publik dan proyek yang kita kenal sebagai "mercusuar", membangun apa yang ia sebut sebagai monumen trimatra yang dapat dilihat seribu tahun ke depan.


Sayang Sukarno terlalu cepat pergi, sebelum semua cita-citanya terwujud. Rezim baru yang menggantikannya segera mengalihkan proyek ideal itu ke pembangunan ekonomi dan industri semata, sekaligus keberpihakan pada layar iklan. Kritik Srihadi Sudarsono dalam lukisannya tentang Jakarta yang penuh layar iklan produk Jepang di era 1970-an adalah sebuah tanda awal wibawa Ibu Kota Jakarta telah kandas dilantak kuasa modal dan kepentingan industri. Lukisan itu membuat marah Gubernur DKI Ali Sadikin dengan mencoret lukisan tersebut-belakangan ia meminta maaf kepada pelukisnya.


Celakanya, wajah ibu kota tak hanya dipenuhi layar iklan pelbagai produk industri. Baliho raksasa foto presiden, menteri kabinet, bersaing dengan foto-foto besar pendakwah agama, calon anggota legislatif, dan bendera-bendera partai politik. Pernahkah mereka yang memasang gambar tersebut mengevaluasi sekali saja; apakah publik senang atau justru muak dengan citra yang ditampilkan semena-mena itu?


Sesungguhnya konsep campuran pada pengembangan Kota Jakarta adalah salah satu pintu dari buruk rupa ini. Memang konsep campuran memudahkan kita untuk mendapatkan pelbagai kebutuhan sehari-hari. Tapi ia justru menjadi sumber kekacauan tata ruang itu sendiri, seperti tecermin pada layar iklan yang menguasai seantero kota. Pemerintah DKI akhirnya menempatkan diri seperti polisi lalu lintas. Penertiban Pasar Tanah Abang yang monumental, tak diikuti dengan kawasan lainnya. Jalan-jalan lebar di kawasan Kemayoran yang menjadi pasar dadakan sempat ditertibkan sesaat, kini kembali seperti semula. Pada malam hari kawasan itu berubah menjadi pasar liar yang konon dibekingi aparat, preman, dan ormas tertentu.


Sistem campuran yang membiarkan kota tumbuh mengikuti keinginan bebas pelbagai kelompok, dan berujung pada kekacauan, berbeda dengan National Capitol Park System, rancangan yang mendasari hidup Kota Washington, D.C., yang terasa konservatif demi menjaga wibawa ibu kota. Kendati sudah puluhan presiden Amerika silih berganti, Washington tetap seperti sediakala; menyerupai sebuah taman yang tak hanya indah, nyaman, tapi juga ruang bagi publik untuk belajar. Di dalam kota itu telah disiapkan puluhan museum seni rupa dan ilmu pengetahuan, monumen sejarah, dan perpustakaan yang dapat diakses publik seluas-luasnya. Kurang-lebih seperti Washington, D.C. itulah ibu kota Jakarta yang pernah dibayangkan oleh Bung Karno. *

Rabu, 12 Juni 2013

C I K A P U N D U N G

Poety baca cerpen karya Om Kurnia .Terbit di Kompas, 9 Juni 2013. Sebenarnya Poety ga gitu ngerti.. cuma senang saja kalau baca tulisannya Om Kurnia, mungkin karena dia teman papa kali ya

Ratapan ini serasa hingar tetapi sebenarnya begitu sayup.


Di atas jembatan kecil aku berdiri, setengah bersandar ke pagarnya yang rendah, diam memandang aliran lemah Cikapundung. Apa yang dia katakan? Tidak ada. Aku malah melihat sesobek hatiku melayang ke permukaannya. Cabikan yang meninggalkan luka sayatan merah dan segaris darah. Terapung merah di atas hitam.

Orang-orang lalu-lalang tanpa melirik sungai yang malas dan mesum. Dulu kukenal ia cantik memikat, meliuk-liuk genit bagai gadis remaja. Pada pagi hari ketika bola emas memanjat langit dengan cahaya pertama yang paling bening, ia memantulkan triliunan tembakan sinarnya sehingga jutaan berlian berpendaran di permukaannya.
Sekarang apa? Bagai naga setengah lumpuh, dia hanya dapat merayap seraya meratap, sedang kota terus tumbuh, dipadati manusia. Dia kehilangan rumpun bambu dan anak-anak, celoteh perawan dan ibu-ibu yang mandi atau mencuci baju.

Sebagian kisah cintaku terekam di sini. Mungkin dia mengulum senyum maklum saat menyaksikan aku untuk pertama kalinya merayu seorang gadis teman sekolah dengan sikap waspada karena khawatir tertangkap basah orang-orang yang berjalan ke sawah.
Cinta monyet memang aneh. Tidak lebih lama daripada gerimis sesaat, yang rela sirna jejaknya dihapus terik matahari. Setelah girang sejenak mengecap cinta yang naif, aku termangu murung di batu kali, mengenal rasa kesepian buat pertama kali. Sesudah itu, banyaklah nama yang datang dan pergi.
Keremajaanku tergerus dengan lekas oleh dunia nyata yang tak kenal ampun. Setamat sekolah menengah aku merambah Ibu Kota. Aku bahkan sempat lupa kepada sebatang sungai yang pernah kuakrabi. Mungkin karena yang kulihat tiap hari di Ibu Kota cuma kali-kali berlumpur dan berbau busuk.

Dulu aku suka berlama-lama memandang Cikapundung sambil duduk di batu, sedang Ibu tak jemu-jemu mengingatkan aku supaya tidak sembrono berenang. ”Awas, kamu jangan nyemplung sendirian!” kata beliau dalam Sunda yang mengalun merdu. Tidak pernah Ibu membentak, sekalipun tengah marah.
Kelembutan kasih sayang Ibu kemudian tergantikan dengan ekspresi dingin sekaligus temperamental kota-kota pada masa dewasaku. Tidak pernah aku tinggal lama di satu kota. Ibu Kota merupakan tempat aku menumpang hidup paling lama hingga akhirnya pulang ke tepi Cikapundung.

Waktu memiliki otoritas tak terbendung untuk mengubah segala hal, termasuk sungai kecintaanku. Ketika pertama kali memandang dia kembali, bermunculan potret-potret lama dari laci ingatan; wajah-wajah yang pernah kutaksir dan kucium dengan gugup di sini dan nama-nama yang kuukir di salah satu batang bambunya.

Sungai ini tampak asing sekarang. Aku tak menuntut dia sebening dulu, tetapi bahkan cokelat pun tidak! Hitam. Hitam pekat. Tak bisa lagi aku becermin di permukaannya: kesempatan untuk memain-mainkan mimik muka dan mengacak-acak rambut meniru rocker yang diam-diam kugandrungi. Di rumah aku tak berani, sebab Bapak mendidik aku dengan keras.

Dengarlah, wahai sungaiku. Bukan hanya engkau. Aku pun telah berubah. Setidaknya, aku bukan lagi kanak-kanak yang pernah kaukenal. Bukan pula remaja tanggung yang canggung dalam gelora hasrat membuncah. Aku datang dengan punggung yang mulai bungkuk. Apa yang kubawa? Setumpuk cerita.
Lama menempuh jalan kehidupan, aku berhasil mengumpulkan tawa dan tangis dalam satu paket. Apa boleh buat, anak-anakku adalah anak-anak panah yang tidak sabaran, ingin buru-buru melesat dari busur. Seperti dulu kutinggalkan Ibu untuk mengembara, mereka pergi dan mengembalikan kesunyian ke ruang batinku secepat mereka tumbuh dewasa.

Si sulung dan si bungsu terbang ke negeri-negeri jauh. Kepergian ibu mereka tak lama kemudian menyempurnakan kesendirianku. Sejenak terbaring di ranjang rumah sakit, hidupnya pun rampung. Parasnya yang beku menyembulkan kekosongan yang aneh di dalam ruangan sehingga aku beringsut ke teras, memandang taman. Kemudian kulihat kupu-kupu kuning terbang sendirian menyinggahi tiga kuntum mawar. Mataku panas dan melembab. Setelah itu tidak pernah lagi aku menangisi kehilangan-kehilanganku, yang terdahulu dan yang kemudian.

Sehabis pukulan bertubi-tubi, kutengok dunia masa kecilku. Sungguh, aku tak terkejut mendapati sungaiku merana. Bukan hanya dia yang habis-habisan diperkosa manusia. Ciliwung, Cisadane, Citarum, serta seribu sungai lain hanya bisa melata lungkrah. Air jernih dibalas dengan limbah.
Wahai Cikapundung, inilah aku. Masih ingatkah engkau pada si ujang yang berlomba berenang dengan kawan-kawannya? Si ujang yang duduk seharian di bebatuan setelah cintanya ditolak si Euis yang punya lesung pipi? Dulu aku pergi tanpa pamit; kini aku datang menuntut penyambutan. Maafkan aku. Bisakah kita bersahabat kembali?

Mungkin persahabatan kita tidak bakal semesra dulu. Tidak bisa lagi aku berendam di dalam sejuk-jernih airmu. Bahkan kini aku menjaga jarak sebab engkau jorok dan bau bacin. Aku sendiri tak setangkas dan seceria dulu. Siapa engkau, siapa aku: satu sama lain telah menjadi asing.

Ah, tahukah engkau apa yang kuraih selama memintal benang kehidupanku? Kudapati cinta yang hebat, sekaligus rapuh; dan kini aku kembali sebagaimana aku didatangkan ke dunia. Semua yang ada pada diriku dilucuti kembali. Orang-orang tercinta terbang menjangkau takdir masing-masing. Selanjutnya, hanya surat-surat yang mengabarkan penghidupan mereka.

Tak pernah kuturuti permintaan mereka agar aku membeli telepon seluler atau belajar menggunakan internet. Untuk apa mengetik pada komputer? Sekadar surat-menyurat dapat kulakukan dengan pena dan kertas. Mereka bercerita tentang sistem komunikasi bernama Skype. Kata mereka, itu cara paling murah bagi komunikasi jarak jauh. Aku membalas surat-surat mereka sesekali saja. Kupikir, mereka bisa menelepon ke rumah kapan saja, asal tahu waktu supaya hemat.

Pukulan kedua datang segera setelah ingatanku pada kupu-kupu di taman rumah sakit memudar: dari Boston, tanggal 13 September 2001. Di ujung telepon kudengar suara putriku emosional. Dia katakan, suaminya sedang berada di salah satu menara kembar World Trade Center saat pesawat-pesawat gila itu menabrak sepasang gedung tersebut satu demi satu dua hari sebelumnya.

Anehnya, dia menolak pulang ketika kuminta. Aku sedih, lalu marah, namun perasaan itu tidak berguna. Maka aku pasrah dengan pilihan hidupnya dan mungkin pula situasi yang tidak bisa kupahami seutuhnya.
Sedangkan si bungsu jarang berkabar. Dia rupanya mewarisi jenis kehidupanku: tidak pernah menetap lama di satu tempat. Seperti juga aku, dia malas menulis surat. Hanya kartu-kartu bergambar yang dikirimkan. Dia tidak segigih kakaknya meminta aku agar menggunakan Skype. Terakhir ia menelepon dari India. ”Mohon restu Papa, saya mau ke Tibet,” katanya. Aneh, tidak biasanya ia meminta restu segala. Suaranya berat tiada nada riangnya. Ada apa?

”Tidak ada apa-apa. Cuma minta doa restu, besok saya berangkat ke Potala.”

Aku tidak bertanya apa yang dia cari di kota seperti itu. Apakah gerangan yang dicari seorang petualang? Dapatkah dirumuskan? Aku juga dulu begitu.

”Baiklah.”

Aku tidak bertanya kapankah dia akan pulang. Kukira, seorang pengembara baru akan pulang kalau dia merasa sudah waktunya pulang. Aku tak pernah bertanya bagaimana dia memenuhi kebutuhan pribadinya. Aku yakin dia dapat melakukan apa saja dengan keprigelan tangannya. Sejak kecil ia terampil melukis batik pada permukaan apa saja: kertas, kain, batu, kayu. Dia pernah mengirimkan foto dirinya diapit sepasang suami-istri Belgia di depan Angkor Wat. Dia bilang, mereka adalah pembeli scarf buatannya.

Saat gagang telepon kuletakkan, aku belum menyadari gaung yang lebih panjang dari sekadar permohonan restu. Hal itu baru terasa mendera batin setelah tahun demi tahun berlalu dan tak pernah ada kartu bergambar atau telepon lagi. Sekali waktu, ketika aku merindukan dia, emosiku meronta. Apa yang menelan dia? Apakah yang menimpa dia di negeri yang aneh itu? Apakah dia bertapa untuk menggapai moksa? Atau… ah, aku tidak berani meneruskan dugaan ke titik ekstrem. Dia masih muda. Akulah yang lebih pantas rampung lebih dulu. namun, mengapa sampai tak ada waktu untuk menelepon ayahnya?
Aku hanya bisa memasuki dunia kosong tanpa tangis yang sangat dalam sehingga diri hilang lenyap dari dunia artikulasi verbal. Aku baru tersadar ketika pundakku ditepuk-tepuk Ni Paimah si tukang masak. Dia bilang makan malam sudah siap. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, dia sudah terseok-seok kembali ke dapur.

Sebelum Desember berlalu, Ni Paimah dan suaminya kuberhentikan dan kujual rumah besar di Ibu Kota.
Rumah Ibu di tepi Cikapundung tak berkutik dijepit rumah-rumah yang semakin rapat mendesak memaksa. Gang menyempit. Tiada lagi tanah lapang dan rumpun bambu di bantaran sungai yang selalu mendesis jika angin membelai dedaunannya yang rimbun.

Di sinilah kini aku berdiri, di jembatan tua yang kikuk menanggapi perubahan zaman. Kurenungi permukaan gelap wajah yang lesu pada saat gerimis akhir bulan Desember menciumi tanpa suara.
Di sini akan kuhabiskan sisa usia sebab di sini ada sahabat setia yang kupercaya untuk menitipkan cerita-cerita. Seperti juga aku, dia sudah tua, tidak segemilang dulu. Tidak terdengar lagi gemercik arus yang riang spontan atau air yang jernih. Limbah manusia telah menodai kemurniannya yang naif. Cikapundung sungai yang dirundung murung.