kilauan zamrud membelah mega..............


Rabu, 26 Maret 2014

Ibu Kota dan Wibawanya (komentar Pakde Borsma dan Pakde Bowo)

ternyata tulisan om Asikin ini dibahas oleh teman-teman papa sesama alumni VM ITB...  berikut adalah komentar Pakde Boersma dan Pakde Bowo.... semua Poety dapat di komputer papa... 
-----------------------------------------------------------------------------
dari Pakde Boersma Ibrahim   

Asikin,
 
aku selalu menghayal mengenai Indonesia ditata dengan baik.. ohh alangkah Indahnya. begitu banyak pantai di Indonesia bisa diciptakan menjadi tempat berrekreasi. Cuaca sangat menunjang. tidak seperti di negara 4 musim. kalau sudah kedinginan mengidam idamkan datangnya matahari, begitu datang hangatnya matahari semua orang bersuka ria, begitu musim dingin muka pada manyun dengan posisi tangan bersidekap.. musim panas 3 bulan terdiri dari, hujan 50%, terang 25%, berawan 25%. nah cuma berapa hari ada matahari ?? jadi seharusnya di Indonesia menikmati keindahan cuaca ya..
Tapi.........hampir semua panca Indra mengatakan tidak...
Penciuman....... bau sampah dan pesing kalau di Bekasi..
Penglihatan..... amburadul di Jakarta..... langit kotor... jalan tumpah ruah segala macam kendaraan.. tidak ada taman kota yang ditata bagus, kalaupun ada banyak tukang baso,es, dll mangkal..
Pendengaran... bising..kali banyaknya manusia. kecuali di Hotel besar ya...
Perasa (Mulut).. kali ini yang masih berlaku, tapi..... daging sekilo jauh lebih mahal dari US. harga mangga sama mahalnya di US, jengkol dan pete sempat menghilang. mudah mudahan diluar Jakarta masih jauh lebih murah ya.
Indera satu aku lupa.... he.. he..
 
Aku setuju dengan pendapatmu... hidup juga mengingkan keindahan bukan hanya perut kenyang. mata perlu sekali dimanjakan dengan keindahan, sehingga pikiran kita selalu segar... nah kalau kota, rumah, jalan, kendaraan tidak mempunyai seni gimana... hambar melihatnya.  Kotanya amburadul, jalannya sumpek campur aduk mobil, motor , rumah tidak mempunyai seni bangunan. wah... butek juga otak....
 
Jadi seni iitu penting....insinyur mobil tidak didampingi oleh designer.. mobilnya mirip kaleng kerupuk jalan... rumah enggak ada seni bisa mirip... gudang beras...
Jadi seni itu penting sekali, ini yang hilang dari masyarakat kita karena  mengutamakan yang lainnya dulu sehingga ibu kota kita terlihat amburadul...
maaf friends aku mengatakan seperti ini bukan karena aku tidak di Jakarta.. Jakarta sudah kehilangan seni setelah ditinggal oleh Bung Karno..pendapatmu Asikin betuullll sekali..
bandung tempo dulu Indah sekali. rumah rumah tertata dengan baik dan bunga bunga tumbuh di pekarangan.. udara sejuk.. kali sudah berubah juga ya...
 
Indonesia tidak punya seni...... ooo tidak...lihat bali.. lihat borobudur, Prambanan...
Cuma banyak orang yang tidak mau memikirkan seni lagi....
Semua teman yang wisata ke Eropa, US, Canada.. pasti takjub melihat bagamana seni membangun kota... ada taman Kota, ada Museum, Bangunan bangunan yang indah dan berseni....
Jadi Asikin selalu taburkan keahlian senimu  kemasyarakat kita termasuk aku dan Villmers lainnya  lho...aku sendiri hanya penikmat seni bukan seniman.
lain kali disambung ceritanya ya... aku lagi santai tadi... jadi sempat buat support tulisanmu...
 
salam hangat.
 
---------------------------------------------------------------------------------------
Komentar Pakde Bowo
 
Akupun juga suka menghayal,
Kapan penduduk jakarta ini punya kebiasaan antri, mendahulukan orang lain.
Kapan penduduk jakarta ini punya kebiasaan, berbicara dengan baik, menyapa satu sama lain.

Sehingga hidup ini terasa, nyaman, aman dan tenteram, terhindar dari prasangka buruk, kekuatiran dan kecemasan.

Terhindar dari perbuatan perbuatan yang tidak baik, terutama seperti mengambil yang bukan haknya..

kebetualan aku kebangun.
Baca tulisan Boersma,
Tulisan seperti itu justru aku rindukan, agar kita tahu kita ada dimana.
Tidak seperti sekarang ini seolah kita sendiri merasa bingung, ibarat " arep mlebu metu endi ".
 
salam
 

Ibu Kota dan Wibawanya

Hari ini Poety ngenet pakai komputer papa... dan poety dapat tulisan ini di komputer papa..
tulisan dari om Asikin Hasan, teman papa di Villa Merah ITB... yuuuk kita baca.....
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ibu Kota dan Wibawanya

Asikin Hasan  (kurator galeri lontar) 
 
Di Washington, D.C., layar iklan produk industri dilarang mengisi ruang-ruang publik. Bahkan baliho berisi foto presiden dan anggota legislatif, apalagi pendakwah agama, tak punya tempat barang secuil pun. Ruang publik adalah milik publik yang harus bersih dari kepentingan kaum saudagar, propaganda para politikus, organisasi massa, dan kelompok tertentu. Foto-foto presiden Amerika hanya bisa kita temukan dalam bentuk kartu pos, dan produk ekonomi kreatif lainnya di dalam toko-toko seni rupa, ditempatkan setara dengan foto-foto Marylin Monroe atau Elvis Presley, simbol budaya pop Amerika era 60-an.


Ibu kota itu tergambar sebagai lahan terbuka, hutan kota yang lebat, taman-taman dengan banyak kursi tempat warga mengaso sejenak, atau menikmati keindahan dan kenyamanan lingkungan sekitarnya. Pemandangan dominan pada ibu kota itu adalah puluhan museum, monumen, patung para pendiri Amerika, dan tokoh pejuang kemanusiaan. Semua menunjukkan sikap dan cara warga Amerika mendudukkan wibawa dan kehormatan ibu kota mereka.


Pada 16 Mei 1956, ketika pertama kali Presiden RI Sukarno melihat Monumen Washington dan kawasan terintegrasi di sekitarnya, ia tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Ia menaruh perhatian begitu penting pada monumen, tempat di mana orang akan selalu mengenang hal berharga dalam kehidupan berbangsa. Monumen serupa itu, menurut Bung Karno, hanya bisa dibangun oleh mereka yang bermental patriot komplet. Istilah itu menunjuk pada semangat totalitas bahwa setelah merdeka, pembangunan bangsa tak cukup hanya dari segi pangan dan papan semata, tapi juga dalam seni-budaya. Pembangunan ruang publik dan elemen di atasnya adalah seni budaya itu sendiri.


Dalam perjalanan 50 hari di Eropa dan Amerika itu, Sukarno terinspirasi mendirikan Monumen Nasional (Monas) dan taman kota. Menurut dia, selain kebanggaan, rakyat berhak mendapatkan pemandangan yang menyehatkan bagi matanya, sebagaimana mereka juga berhak berjalan kaki dengan nyaman dan aman di atas trotoar. Di tengah krisis ekonomi dengan inflasi hingga 650 persen ketika itu, Bung Karno seolah melawan teori Abraham Maslow soal jenjang kebutuhan dasar manusia. Bagi Bung Karno, kebutuhan manusia akan seni dan budaya setara dengan kebutuhan dasar lainnya. Keyakinan itulah yang dipegangnya untuk membangun ruang-ruang publik dan proyek yang kita kenal sebagai "mercusuar", membangun apa yang ia sebut sebagai monumen trimatra yang dapat dilihat seribu tahun ke depan.


Sayang Sukarno terlalu cepat pergi, sebelum semua cita-citanya terwujud. Rezim baru yang menggantikannya segera mengalihkan proyek ideal itu ke pembangunan ekonomi dan industri semata, sekaligus keberpihakan pada layar iklan. Kritik Srihadi Sudarsono dalam lukisannya tentang Jakarta yang penuh layar iklan produk Jepang di era 1970-an adalah sebuah tanda awal wibawa Ibu Kota Jakarta telah kandas dilantak kuasa modal dan kepentingan industri. Lukisan itu membuat marah Gubernur DKI Ali Sadikin dengan mencoret lukisan tersebut-belakangan ia meminta maaf kepada pelukisnya.


Celakanya, wajah ibu kota tak hanya dipenuhi layar iklan pelbagai produk industri. Baliho raksasa foto presiden, menteri kabinet, bersaing dengan foto-foto besar pendakwah agama, calon anggota legislatif, dan bendera-bendera partai politik. Pernahkah mereka yang memasang gambar tersebut mengevaluasi sekali saja; apakah publik senang atau justru muak dengan citra yang ditampilkan semena-mena itu?


Sesungguhnya konsep campuran pada pengembangan Kota Jakarta adalah salah satu pintu dari buruk rupa ini. Memang konsep campuran memudahkan kita untuk mendapatkan pelbagai kebutuhan sehari-hari. Tapi ia justru menjadi sumber kekacauan tata ruang itu sendiri, seperti tecermin pada layar iklan yang menguasai seantero kota. Pemerintah DKI akhirnya menempatkan diri seperti polisi lalu lintas. Penertiban Pasar Tanah Abang yang monumental, tak diikuti dengan kawasan lainnya. Jalan-jalan lebar di kawasan Kemayoran yang menjadi pasar dadakan sempat ditertibkan sesaat, kini kembali seperti semula. Pada malam hari kawasan itu berubah menjadi pasar liar yang konon dibekingi aparat, preman, dan ormas tertentu.


Sistem campuran yang membiarkan kota tumbuh mengikuti keinginan bebas pelbagai kelompok, dan berujung pada kekacauan, berbeda dengan National Capitol Park System, rancangan yang mendasari hidup Kota Washington, D.C., yang terasa konservatif demi menjaga wibawa ibu kota. Kendati sudah puluhan presiden Amerika silih berganti, Washington tetap seperti sediakala; menyerupai sebuah taman yang tak hanya indah, nyaman, tapi juga ruang bagi publik untuk belajar. Di dalam kota itu telah disiapkan puluhan museum seni rupa dan ilmu pengetahuan, monumen sejarah, dan perpustakaan yang dapat diakses publik seluas-luasnya. Kurang-lebih seperti Washington, D.C. itulah ibu kota Jakarta yang pernah dibayangkan oleh Bung Karno. *

Rabu, 12 Juni 2013

C I K A P U N D U N G

Poety baca cerpen karya Om Kurnia .Terbit di Kompas, 9 Juni 2013. Sebenarnya Poety ga gitu ngerti.. cuma senang saja kalau baca tulisannya Om Kurnia, mungkin karena dia teman papa kali ya

Ratapan ini serasa hingar tetapi sebenarnya begitu sayup.


Di atas jembatan kecil aku berdiri, setengah bersandar ke pagarnya yang rendah, diam memandang aliran lemah Cikapundung. Apa yang dia katakan? Tidak ada. Aku malah melihat sesobek hatiku melayang ke permukaannya. Cabikan yang meninggalkan luka sayatan merah dan segaris darah. Terapung merah di atas hitam.

Orang-orang lalu-lalang tanpa melirik sungai yang malas dan mesum. Dulu kukenal ia cantik memikat, meliuk-liuk genit bagai gadis remaja. Pada pagi hari ketika bola emas memanjat langit dengan cahaya pertama yang paling bening, ia memantulkan triliunan tembakan sinarnya sehingga jutaan berlian berpendaran di permukaannya.
Sekarang apa? Bagai naga setengah lumpuh, dia hanya dapat merayap seraya meratap, sedang kota terus tumbuh, dipadati manusia. Dia kehilangan rumpun bambu dan anak-anak, celoteh perawan dan ibu-ibu yang mandi atau mencuci baju.

Sebagian kisah cintaku terekam di sini. Mungkin dia mengulum senyum maklum saat menyaksikan aku untuk pertama kalinya merayu seorang gadis teman sekolah dengan sikap waspada karena khawatir tertangkap basah orang-orang yang berjalan ke sawah.
Cinta monyet memang aneh. Tidak lebih lama daripada gerimis sesaat, yang rela sirna jejaknya dihapus terik matahari. Setelah girang sejenak mengecap cinta yang naif, aku termangu murung di batu kali, mengenal rasa kesepian buat pertama kali. Sesudah itu, banyaklah nama yang datang dan pergi.
Keremajaanku tergerus dengan lekas oleh dunia nyata yang tak kenal ampun. Setamat sekolah menengah aku merambah Ibu Kota. Aku bahkan sempat lupa kepada sebatang sungai yang pernah kuakrabi. Mungkin karena yang kulihat tiap hari di Ibu Kota cuma kali-kali berlumpur dan berbau busuk.

Dulu aku suka berlama-lama memandang Cikapundung sambil duduk di batu, sedang Ibu tak jemu-jemu mengingatkan aku supaya tidak sembrono berenang. ”Awas, kamu jangan nyemplung sendirian!” kata beliau dalam Sunda yang mengalun merdu. Tidak pernah Ibu membentak, sekalipun tengah marah.
Kelembutan kasih sayang Ibu kemudian tergantikan dengan ekspresi dingin sekaligus temperamental kota-kota pada masa dewasaku. Tidak pernah aku tinggal lama di satu kota. Ibu Kota merupakan tempat aku menumpang hidup paling lama hingga akhirnya pulang ke tepi Cikapundung.

Waktu memiliki otoritas tak terbendung untuk mengubah segala hal, termasuk sungai kecintaanku. Ketika pertama kali memandang dia kembali, bermunculan potret-potret lama dari laci ingatan; wajah-wajah yang pernah kutaksir dan kucium dengan gugup di sini dan nama-nama yang kuukir di salah satu batang bambunya.

Sungai ini tampak asing sekarang. Aku tak menuntut dia sebening dulu, tetapi bahkan cokelat pun tidak! Hitam. Hitam pekat. Tak bisa lagi aku becermin di permukaannya: kesempatan untuk memain-mainkan mimik muka dan mengacak-acak rambut meniru rocker yang diam-diam kugandrungi. Di rumah aku tak berani, sebab Bapak mendidik aku dengan keras.

Dengarlah, wahai sungaiku. Bukan hanya engkau. Aku pun telah berubah. Setidaknya, aku bukan lagi kanak-kanak yang pernah kaukenal. Bukan pula remaja tanggung yang canggung dalam gelora hasrat membuncah. Aku datang dengan punggung yang mulai bungkuk. Apa yang kubawa? Setumpuk cerita.
Lama menempuh jalan kehidupan, aku berhasil mengumpulkan tawa dan tangis dalam satu paket. Apa boleh buat, anak-anakku adalah anak-anak panah yang tidak sabaran, ingin buru-buru melesat dari busur. Seperti dulu kutinggalkan Ibu untuk mengembara, mereka pergi dan mengembalikan kesunyian ke ruang batinku secepat mereka tumbuh dewasa.

Si sulung dan si bungsu terbang ke negeri-negeri jauh. Kepergian ibu mereka tak lama kemudian menyempurnakan kesendirianku. Sejenak terbaring di ranjang rumah sakit, hidupnya pun rampung. Parasnya yang beku menyembulkan kekosongan yang aneh di dalam ruangan sehingga aku beringsut ke teras, memandang taman. Kemudian kulihat kupu-kupu kuning terbang sendirian menyinggahi tiga kuntum mawar. Mataku panas dan melembab. Setelah itu tidak pernah lagi aku menangisi kehilangan-kehilanganku, yang terdahulu dan yang kemudian.

Sehabis pukulan bertubi-tubi, kutengok dunia masa kecilku. Sungguh, aku tak terkejut mendapati sungaiku merana. Bukan hanya dia yang habis-habisan diperkosa manusia. Ciliwung, Cisadane, Citarum, serta seribu sungai lain hanya bisa melata lungkrah. Air jernih dibalas dengan limbah.
Wahai Cikapundung, inilah aku. Masih ingatkah engkau pada si ujang yang berlomba berenang dengan kawan-kawannya? Si ujang yang duduk seharian di bebatuan setelah cintanya ditolak si Euis yang punya lesung pipi? Dulu aku pergi tanpa pamit; kini aku datang menuntut penyambutan. Maafkan aku. Bisakah kita bersahabat kembali?

Mungkin persahabatan kita tidak bakal semesra dulu. Tidak bisa lagi aku berendam di dalam sejuk-jernih airmu. Bahkan kini aku menjaga jarak sebab engkau jorok dan bau bacin. Aku sendiri tak setangkas dan seceria dulu. Siapa engkau, siapa aku: satu sama lain telah menjadi asing.

Ah, tahukah engkau apa yang kuraih selama memintal benang kehidupanku? Kudapati cinta yang hebat, sekaligus rapuh; dan kini aku kembali sebagaimana aku didatangkan ke dunia. Semua yang ada pada diriku dilucuti kembali. Orang-orang tercinta terbang menjangkau takdir masing-masing. Selanjutnya, hanya surat-surat yang mengabarkan penghidupan mereka.

Tak pernah kuturuti permintaan mereka agar aku membeli telepon seluler atau belajar menggunakan internet. Untuk apa mengetik pada komputer? Sekadar surat-menyurat dapat kulakukan dengan pena dan kertas. Mereka bercerita tentang sistem komunikasi bernama Skype. Kata mereka, itu cara paling murah bagi komunikasi jarak jauh. Aku membalas surat-surat mereka sesekali saja. Kupikir, mereka bisa menelepon ke rumah kapan saja, asal tahu waktu supaya hemat.

Pukulan kedua datang segera setelah ingatanku pada kupu-kupu di taman rumah sakit memudar: dari Boston, tanggal 13 September 2001. Di ujung telepon kudengar suara putriku emosional. Dia katakan, suaminya sedang berada di salah satu menara kembar World Trade Center saat pesawat-pesawat gila itu menabrak sepasang gedung tersebut satu demi satu dua hari sebelumnya.

Anehnya, dia menolak pulang ketika kuminta. Aku sedih, lalu marah, namun perasaan itu tidak berguna. Maka aku pasrah dengan pilihan hidupnya dan mungkin pula situasi yang tidak bisa kupahami seutuhnya.
Sedangkan si bungsu jarang berkabar. Dia rupanya mewarisi jenis kehidupanku: tidak pernah menetap lama di satu tempat. Seperti juga aku, dia malas menulis surat. Hanya kartu-kartu bergambar yang dikirimkan. Dia tidak segigih kakaknya meminta aku agar menggunakan Skype. Terakhir ia menelepon dari India. ”Mohon restu Papa, saya mau ke Tibet,” katanya. Aneh, tidak biasanya ia meminta restu segala. Suaranya berat tiada nada riangnya. Ada apa?

”Tidak ada apa-apa. Cuma minta doa restu, besok saya berangkat ke Potala.”

Aku tidak bertanya apa yang dia cari di kota seperti itu. Apakah gerangan yang dicari seorang petualang? Dapatkah dirumuskan? Aku juga dulu begitu.

”Baiklah.”

Aku tidak bertanya kapankah dia akan pulang. Kukira, seorang pengembara baru akan pulang kalau dia merasa sudah waktunya pulang. Aku tak pernah bertanya bagaimana dia memenuhi kebutuhan pribadinya. Aku yakin dia dapat melakukan apa saja dengan keprigelan tangannya. Sejak kecil ia terampil melukis batik pada permukaan apa saja: kertas, kain, batu, kayu. Dia pernah mengirimkan foto dirinya diapit sepasang suami-istri Belgia di depan Angkor Wat. Dia bilang, mereka adalah pembeli scarf buatannya.

Saat gagang telepon kuletakkan, aku belum menyadari gaung yang lebih panjang dari sekadar permohonan restu. Hal itu baru terasa mendera batin setelah tahun demi tahun berlalu dan tak pernah ada kartu bergambar atau telepon lagi. Sekali waktu, ketika aku merindukan dia, emosiku meronta. Apa yang menelan dia? Apakah yang menimpa dia di negeri yang aneh itu? Apakah dia bertapa untuk menggapai moksa? Atau… ah, aku tidak berani meneruskan dugaan ke titik ekstrem. Dia masih muda. Akulah yang lebih pantas rampung lebih dulu. namun, mengapa sampai tak ada waktu untuk menelepon ayahnya?
Aku hanya bisa memasuki dunia kosong tanpa tangis yang sangat dalam sehingga diri hilang lenyap dari dunia artikulasi verbal. Aku baru tersadar ketika pundakku ditepuk-tepuk Ni Paimah si tukang masak. Dia bilang makan malam sudah siap. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, dia sudah terseok-seok kembali ke dapur.

Sebelum Desember berlalu, Ni Paimah dan suaminya kuberhentikan dan kujual rumah besar di Ibu Kota.
Rumah Ibu di tepi Cikapundung tak berkutik dijepit rumah-rumah yang semakin rapat mendesak memaksa. Gang menyempit. Tiada lagi tanah lapang dan rumpun bambu di bantaran sungai yang selalu mendesis jika angin membelai dedaunannya yang rimbun.

Di sinilah kini aku berdiri, di jembatan tua yang kikuk menanggapi perubahan zaman. Kurenungi permukaan gelap wajah yang lesu pada saat gerimis akhir bulan Desember menciumi tanpa suara.
Di sini akan kuhabiskan sisa usia sebab di sini ada sahabat setia yang kupercaya untuk menitipkan cerita-cerita. Seperti juga aku, dia sudah tua, tidak segemilang dulu. Tidak terdengar lagi gemercik arus yang riang spontan atau air yang jernih. Limbah manusia telah menodai kemurniannya yang naif. Cikapundung sungai yang dirundung murung.

Minggu, 21 April 2013

[curhat UN] Bapak PRESIDEN mengapa kami yang terhukum ...

UN.... hiii ujian nasional ....
ramai deh... Poety tadi pagi dengerin diskusi UN di radio Elshinta...
UN tahun ini berantakan... terus cetakannya buruk... terus banyak yang protes.. terus banyak yang stress, terus banyak yang bingung.. terus banyak yang panik..terus banyak yang takut...
lihat berita di TV.. ada kakak-kakan kelas 12 doa bersama menjelang UN... ada yang tahlillan bersama...
Ih serem banget beritanya......banyak kakak-kakak yang ketakutan.............

Terus Poety jadi bingung...kenapa ya kok serem banget.... terus buat apa kalau gitu?
Bapak Menteri...tolong dong jawab....buat apa UN ituuuuuu....bapak Presiden kok kami yang disiksa...

Tadi Poety nanya sama papa, "kalau disekolah banyak yang gagal UN, terus siapa yang salah?"

Bapak Presiden, kalau kami gagal UN...kenapa kami yang disalahin.... kenapa bapakkkkkk....
kami udah belajar...terus kami ga bisa jawab soal UN...terus apa itu berarti kami yang salah????

Kan kami udah belajar bapaaak...kami udah mati-matian belajar...
jangan-jangan gurunya yang salah... 
jangan-jangan sekolahnya yang salah...
jangan-jangan diknasnya yang salah...
jangan-jangan bapak menterinya yang salah...
jangan-jangan bapak presiden yang salah....

kami kan MASIH ANAK-ANAK... kami ga ngerti apa-apa... kami kan yang diajari ....

sekarang kami ANAK INDONESIA yang terhukum karena kesalahan bapak presiden......
kami yang TERHUKUM....KAMI YANG DIRUGIKAN...... 
kami yang stres... kami yang ketakutan.... kami yang menanggungnya....

Ini tidak adil...ini TIDAK ADIL bapak Presiden..... 
Iniiiiiii TIDAAAAAAK ADIL bapak Menteri....

Kami PROTES.....



Kamis, 11 April 2013

10 CEO dengan Gaji Tertinggi

Dapat berita ini liputan 6.com.... hmmm mungkin ga ya suatu saat nanti Poety atau Uda Fahmi atau Albert  berada dalam 10 besar ini.......tapi maunya gajinya yang buah saja yaa ga suka yang bunga.... 

Coba deh baca kutipan berita ini....

Dari 1.426 miliarder dengan catatan kekayaan bersih hingga menembus US$ 5,4 triliun, sebanyak 442 orang terkaya berasal dari Amerika Serikat (AS). Dan hampir 10% dari daftar konglomerat itu adalah CEO perusahaan publik di negara AS.
Walaupun rekening para miliarder sudah sesak dengan harta kekayaan, namun taipan-taipan ini juga mengantongi gaji serta bonus yang cukup tinggi.

Berikut 10 CEO dengan bayaran tertinggi di dunia seperti dikutip dari laman Forbes, Kamis (11/4/2013).  

1. Richard Kinder
Gaji : US$ 1,1 miliar
Kekayaan : US$ 9,8 miliar
Bos dari perusahaan yang bergerak di bidang energi, Kinder Morgan ini membayar dirinya hanya US$ 1 per tahun. Meski dia tidak pernah menerima bonus, saham, dan hibah saham dari perusahaan yang dipimpinnya, tapi Richard mampu meraup US$ 1,1 miliar di tahun lalu, sehingga mencatatkan dirinya sebagai CEO dengan bayaran tertinggi di Amerika Serikat (AS). Gaji tersebut dia peroleh dari keuntungan saham saat Kinder menjadi perusahaan publik pada 2006. 

2. Daniel S. Och
Gaji : US$ 289 juta
Kekayaan : US$ 2,9 miliar
CEO dari perusahaan hedge fund, Och Ziff Capital Management Group itu memperoleh US$ 288 juta dari saham vested (hak karyawan).

3. Howard Schultz
Gaji : US$ 118 juta
Kekayaan : US$ 1,7 miliar
Bos pemilik jaringan ritel, Starbucks ini mendapat gaji pokok US$ 1,5 juta dengan bonus mencapai US$ 2,3 miliar. Sebagian besar kompensasi tersebut berasal dari opsi saham dan US$ 10 juta dari saham vested.

4. Leslie Wexner
Gaji : US$ 58 juta
Kekayaan : US$ 4,6 miliar
Pemimpin The Limited Inc tersebut dibayar US$ 1,9 juta sebagai gaji, serta bonus US$ 4,9 juta. Dia mengatakan, total kompensasi dari opsi sahamnya mencapai US$ 32 juta dan saham vested sebesar US$ 18,7 juta.

5. Ralph Lauren
Gaji : US$ 39 juta
Kekayaan : US$ 6,9 miliar
Pengusaha fashion ini membayar diri sendiri dengan gaji US$ 1,2 juta dan bonus US$ 19,5 juta. Selain itu, dia melakukan eksekusi atas opsi saham senilai US$ 5,2 juta dan menerima US$ 12,4 juta saham vested.

6. Lawrence J. Ellison
Gaji : US$ 37 juta
Kekayaan : US$ 40 miliar
Pendiri Oracle tersebut memperoleh gaji sebesar US$ 1, namun untuk bonusnya sendiri sebanyak US$ 3,9 juta serta eksekusi saham opsi US$ 31,7 juta.

7. Henry R. Kravis
Gaji : US$ 35 juta
Kekayaan : US$ 4,5 miliar
Co CEO dari perusahaan ekuitas swasta, Kohlberg mengantongi gaji hanya US$ 300 ribu. Tapi mayoritas pendapatan berasal dari bunga dan bagian keuntungan saham yang telah disepakati perusahaan sebesar US$ 34,7 juta.  

8. George Roberts
Gaji : US$ 35 juta
Kekayaan : US$ 4,2 miliar
Roberts merupakan bagian dari salah satu direksi di Kohlberg milik Henry R Kravis. Dia memboyong gaji pokok US$ 300 ribu dan bunga senilai US$ 37,4 juta.

9. Rupert Murdoch
Gaji : US$ 23 juta
Kekayaan : US$ 11,9 miliar.
Penguasa jaringan media ini mengkombinasikan antara gaji, bonus dan saham vested dengan masing-masing senilai US$ 8,1 juta, US$ 10,4 juta dan US$ 4,1 juta.

10. Frederick Smith
Gaji : US$ 22 juta
Kekayaan : US$ 1,8 miliar
CEO perusahaan logistik, FedEx tersebut mendapatkan gaji US$ 1,2 juta dan bonus US$ 1,3 juta. Upah insentif senilai US$ 5,2 juta dalam jangka panjang terkait kinerja perusahaan, serta opsi saham mencapai US$ 13,2 juta

Kamis, 14 Maret 2013

jam karet bukan budaya kita...

Hai... apa kabar sahabat...
Poety udah lama ga ngeblog... sekarang kangen nulis lagi... 

Tadi pagi waktu berangkat sekolah.. seperti biasa poety bareng papa berangkat kerja.. 
pagi ini kami berangkat lebih pagi karena papa ada kelas mengajar jam 8...
Poety sangat ngerti kalau papa gak suka mulai kelasnya terlambat... jadi karena perjalanan dari rumah ke ITech sering macet dipagi hari, papa mesti berangkat lebih pagi... 
Papa bilang kalau pagi hari, papa rata-rata butuh waktu 1-2  jam ke kampus.. kalau jalannya lagi lancar bisa satu jam... tapi kalau macet parah bisa habis 2,5 bahkan sampai 3 jam...

Poety pernah nanya ke papa...
"kenapa papa mesti berangkat lebih pagi...kan kalau sekali-sekali telat ga apa-apa...paling mahasiswa papa juga ngertiin kalau rumah kita jauh..."
"ga boleh begitu...itu namanya mengajari mahasiswa tidak disiplin..." balas papa... terus papa bilang lagi.. 
"poety tahu ga... kalau salah satu penyakit yang sering dituduhkan ke bangsa kita...orang Indonesia tu punya budaya jam karet... menyepelekan waktu...., nah papa ingin budaya jam karet itu tidak lagi jadi budaya...tapi cukuplah jadi catatan masa lalu saja..."

Poety bingung...perasaan disekolah poety juga diajarin untuk masuk kelas tepat waktu...guru-guru poety juga selalu sudah siap di kelas setiap pagi... kayaknya juga disekolah lain juga gitu.. kalau telat pastinya kena hukum... gitu juga cerita Uda Fahmi...di sekolah uda kalau muridnya datang telat, pasti dihukum lari mengelilingi lapangan atau jalan jongkok atau push-up dan lain-lain..bahkan kalau 3 hari telat berturut-turut orang tua dipanggil ke sekolah... 

Jadi masak iya sih bangsa kita punya budaya jam karet? kan udah diajari disiplin waktu sejak SD sampai SMA... 

Poety jadi pengen nanya lagi sama papa... 

Nanti ya kalau papa udah pulang.... 

...

Selasa, 24 Juli 2012

RENUNGAN UNTUK PARA GURU DAN ORANG TUA


Barusan buka-buka FB dan baca share Komunitas Ayah Edy yang ada di fb-nya Uni Melvika... karena bagus, jadi copas deh ke blog Poety  ini....


RENUNGAN UNTUK PARA GURU DAN ORANG TUA

Namaku Joe.....

Namaku Joe. Hanya Joe. Sebenarnya nama yang tertera di surat lahirku cukup panjang, tapi sulit bagiku untuk menulis rangkaian huruf demi huruf itu membentuk namaku. Jadi, aku mengatakan pada semua orang, namaku hanya tiga huruf J-O-E.

Ketika kecil, aku didaftarkan di sebuah sekolah terkenal di kota kelahiranku. Sekolah ini terkenal dengan murid-muridnya yang mempunyai tulisan halus kasar yang bagus sekali, bahkan sejak mereka di bangku Taman Kanak-Kanak.

Aku selalu memakai tangan kiri untuk melakukan semua kegiatan, termasuk belajar menulis. Entah kenapa, tangan kananku tidak sekuat tangan kiriku, orang-orang menyebutku kidal. Guru-guruku di TK selalu memaksaku menulis memakai tangan kanan, bahkan mereka pernah memukul jari-jariku dengan penggaris panjang ketika aku memakai tangan kiri untuk belajar menulis, tapi aku tidak bisa. Mereka baru berhenti memarahiku ketika papa datang ke sekolah dan meminta mereka membiarkanku memakai tangan kiri. Papa berpendapat, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Ibu guru berusaha memegang tanganku untuk mengajarkanku menulis indah, tapi hasilnya tidak indah. Setelah sekian lama, akhirnya Ibu guru menyerah, dan membiarkanku dengan tulisan cakar ayamku.

Saat memasuki bangku SD, mimpi burukku bermula. Kami diharuskan mencatat dalam kalimat panjang-panjang. Aku mencatat dengan pelan sekali, aku membaca tulisan di papan tulis dengan susah payah, aku tidak mengerti apa arti rangkaian huruf-huruf itu. Huruf-huruf itu seakan-akan berterbangan di otakku, menari-nari dan bernyanyi diiringi irama ceria, tra-la-la tri-l-li... Sungguh mengasyikkan! :D Kadang kala aku tenggelam dalam imajinasiku, membayangkan pensilku sebagai baling-baling bambu Doraemon, aku terbang melintasi awan-awan yang berbentuk seperti huruf-huruf dan angka-angka di papan tulis. Hahaha… Tapi kadang-kadang juga, tiba-tiba aku teringat wajah Ibu guru yang sedang marah, aku berusaha memindahkan bentuk huruf-huruf di papan tulis ke buku catatanku, tapi yah.. dari 10 kalimat yang harus kucatat, paling bisa aku hanya berhasil memindahkan 3 atau 4 kalimat, itupun dengan susah payah.

Hampir setiap hari Ibu Guru selalu menulis kata-kata ‘malas, suka melamun, nakal, tidak mau mencatat’ dan banyak kata-kata lainnya di buku jurnalku. Aku sedih sekali, aku merasa aku sudah berusaha keras. Ditambah lagi, aku tahu, jika nanti di rumah, sepulangnya mama dari kantor dan memeriksa tas sekolahku, beliau akan marah besar dan menghukumku jika beliau membaca pesan-pesan yang ditulis Ibu guru. :((

Sebenarnya aku kasihan juga pada mama. Mama setiap hari harus menelepon ke teman-teman sekelasku untuk mencatat pelajaran hari itu, sekaligus mencatat soal-soal PR yang diberikan Ibu guru, yang harus dikumpulkan besok. Mama tidak mau aku dihukum Ibu guru. Soal-soal matematika itu tidak sulit bagiku, aku bisa mengerjakannya dengan mudah. Tapi jangan suruh aku menulis indah, aku benci! Aku benci karena aku tahu, aku pasti mendapatkan stempel jempol mengarah kebawah besok, dengan warna tinta merah pula! Membuat aku merasa murid paling bodoh di kelas!

Hari-hari sekolah bagaikan mimpi terburukku. Di sekolah Ibu guru selalu berteriak padaku, mengganggu ketika aku asyik melamun yang indah-indah. Di rumah, mama selalu kelihatan stress dan emosi ketika melihat buku-buku catatanku. Aku tidak mengerti, mengapa aku harus menulis jawaban ‘biru’ untuk warna langit, sedangkan aku tahu, kadang-kadang langit kelihatan berwarna putih, merah jingga yang indah sekali atau bahkan hitam gelap ketika mau hujan. Aku juga tidak mengerti, mengapa Ibu guru marah ketika aku merangkak di kolong meja untuk mengambil penghapus temanku yang jatuh atau ketika aku asyik mengamati burung kecil yang hinggap di jendela kelas, dekat tempat dudukku. Ibu guru tidak tahu ya, betapa aku berjuang menahan kelopak mataku yang hampir selalu tertutup di kelas yang membosankan ini.

Suatu hari, entah keajaiban apa yang terjadi. Mama manis sekali kepadaku, selalu tersenyum sepanjang hari. Hari itu tidak ada bentakan sama sekali, tidak ada kerutan di kening dan wajah muram ketika menemaniku membuat PR. Bahkan mama tidak marah pada koko ku, walaupun dia mendapat nilai 5 di ujian bahasa Mandarinnya. Sejak hari itu, dunia seakan penuh warna, mama jarang sekali marah-marah lagi. Mama berkata, “Tidak ada yang salah dengan dirimu, anakku. Sekolahmulah yang tidak cocok untuk kamu. Maafkan mama, selama ini mama mengira kamu tidak mau berusaha untuk berubah, mama salah.”

Mama membawa aku jalan-jalan ke banyak sekolah di kota kami. Bertanya banyak sekali pada guru-guru disana. Memperhatikan bagaimana cara guru-guru itu berbicara padaku. Kadang-kadang aku merasa sedikit kasihan melihat guru-guru itu kebingungan menjawab pertanyaan mamaku yang cerewet, hahaha… Maaf, mama! ( Mama bilang aku harus jadi anak yang jujur kan? :p)

Aku pindah ke sekolah yang bagus. Teman-teman sekelasku tidak sebanyak teman di sekolahku yang lama. Tapi mereka baik, mereka tidak pernah mengatakan aku bodoh, pemalas atau aneh. Guru-guruku malah selalu memujiku, mengatakan aku anak yang pintar, sangat kreatif, dan punya banyak ide cemerlang.

Ibu guru tidak perduli dengan tulisanku yang seperti cakar ayam, membenarkan jawabanku meskipun kadang-kadang aku terbalik menuliskan angka 3 menjadi E, b menjadi d. Guru Sains ku menuliskan opini ‘Joe is so good at science. He will become master of science if he read a lot of science books.’ di laporan bulananku.

Kawan, tahu ga? Aku merasa menjadi anak pintar disini, aku dengan penuh semangat ikut Olimpiade Sains tingkat nasional, aku mempelajari banyak sekali komik-komik sains, aku melakukan banyak eksperimen fisika, capek tapi senang! Aku lolos sampai tingkat semi final lho! Hahaha… senang sekali.

Aku ingin menjadi seorang penemu kelak, kalau aku sudah besar. Aku ingin menemukan ‘Pintu Ajaib’, agar orang-orang bisa pergi ke tempat lain dalam sekejap, tidak usah naik mobil dan terkena macet lagi.

Jalan-jalan bisa diubah jadi taman bunga atau taman hiburan anak-anak, seperti Disneyland gitu lho. Atau jadi water park yang asyik, atau lapangan sepak bola. Pasti menyenangkan! Akan kujual penemuanku ini ke seluruh dunia, aku pasti jadi kayaaa sekali. Aku mau bangun sekolah-sekolah yang bagus, ga usah bayar! Biar aku yang bayarin uang sekolahnya! :D

Eh, akhirnya aku tahu, apa yang terjadi!

Aku mendengarkan ketika mama berbicara dengan penuh semangat kepada sahabatnya, sesuatu tentang ‘anak dominan otak kanan’, buku-buku, dan satu nama ‘Ayah Edy’. Siapa itu?

Banyak temanku yang bernama Edy, banyak juga teman papaku yang bernama Edy. Yang mana ya? Entahlah, kurasa kapan-kapan saja aku baru mencari tahu, yang mana Ayah Edy yang dimaksud.

Yang kutahu, beliau telah berhasil mengubah mama. Mama yang sebelumnya keras, selalu menginginkan kami mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, pelit pujian dan sering marah-marah, benar-benar berubah menjadi seorang malaikat.

Jika suatu hari nanti, aku bisa bertemu Ayah Edy sahabat mama itu, aku pasti akan memeluknya dan berbisik, “Terima kasih, Ayah. Ayah mengubah duniaku!”

Based on a true story
June'12
Mama Joe ( usia 9thn)
Cen Mei Ling

PS.

Bukan kebetulan surat ini di tulis, ternyata bertepatan dengan hari ulang tahun Ayah Edy.

Bukan sebuah kebetulan juga surat ini di berikan di pagi hari sebelum Ayah Edy memberi seminar kepada 1000 guru di Medan.

Dan atas keinginan Tuhan tiba2 ayah meminta Mama Joe bertestimoni tentang pengalaman bersama anaknya, dan Mama Joe meminta isi testimoninya adalah membaca surat yg baru saja di berikan pada Ayah tadi pagi dari puteranya.

Bukan kebetulan juga bahwa Anda sebagai guru dan orang tua, saat ini tertarik untuk membaca tulisan ini hingga PERSIS di paragraf ini...... meskipun kisahnya sangat panjang..

Pikirkalah....sadarilah, renungkanlah..... ini pasti bukan sebuah kebetulan biasa....

Memang sesungguhnya tidak pernah ada yg kebetulan dalam hidup ini, semuanya sudah di atur dalam sebuah skenario besar Tuhan melalui Alam SemestaNya.

Mari kita bangun Indonesia yg kuat dari keluarga melalui anak-anak kita tercinta !!